indiproperti merupakan agent perumahan Jual Beli Rumah Bandung dan Cimahi

Mengetahui Petok D dan Cara Mengurusnya Menjadi SHM

Mengetahui Petok D dan Cara Mengurusnya Menjadi SHM. Jikalau Anda yaitu seorang penggemar properti, maka Anda pasti tak asing dengan istilah “Petok D”. Secara sekiranya Anda sedang mencari properti di Jakarta Selatan, Petok D yaitu salah satu hal yang sepatutnya Anda ketahui. Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara rinci perihal Petok D dan cara mengurusnya menjadi sertifikat hak milik (SHM).

Mengetahui Petok D

Mengetahui Petok D dan Cara Mengurusnya Menjadi SHM

Apa itu Petok D?

Petok D yaitu salah satu bentuk hak milik atas tanah yang dipegang dalam cara tata tertib adat di Indonesia, terutama di Jawa. Konsep hak milik atas tanah dalam tata tertib adat Jawa sendiri mempunyai sebagian bentuk, salah satunya yaitu petok. Petok D sendiri yaitu salah satu variasi petok yang biasanya diterapkan untuk menonjolkan batas atau luas lahan.

Petok D biasanya terdiri dari sebatang kayu atau bambu yang ditanamkan di dalam tanah pada spot-spot tertentu yang membuktikan batas tanah. Petok D juga mempunyai lambang-lambang atau pedoman-pedoman yang diukir pada kayu atau bambu tersebut yang dapat dikenali oleh masyarakat sekitar.

Tetapi, perlu diingat bahwa Petok D tak mempunyai tenaga tata tertib yang sama dengan sertifikat hak atas tanah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, sekiranya ingin mengurus Petok D menjadi sertifikat hak milik tanah, maka sepatutnya via progres yang cukup panjang dan memerlukan persetujuan dari semua ahli waris atau pihak yang mempunyai hak atas tanah tersebut.

Pengurusan Petok D menjadi sertifikat hak milik tanah via Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat dilaksanakan dengan mengajukan permohonan pendaftaran hak atas tanah. Dalam progres ini, pemilik tanah sepatutnya membawa Petok D dan dokumen-dokumen lainnya yang dapat membuktikan kepemilikan dan sejarah tanah tersebut.

Dalam hal terdapat perselisihan atau sengketa berhubungan kepemilikan tanah yang diindikasikan oleh Petok D, maka perlu dilaksanakan penyelesaian sengketa terutama dulu sebelum mengurus Petok D menjadi sertifikat hak atas tanah. Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan secara musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama antara para pihak yang bersengketa atau dapat juga via trek tata tertib.

Dalam inti sarinya, Petok D yaitu salah satu bentuk hak milik atas tanah dalam tata tertib adat Jawa yang diterapkan untuk menonjolkan batas atau luas lahan. Tetapi, sekiranya ingin mengurus Petok D menjadi sertifikat hak milik tanah, sepatutnya via progres yang cukup panjang dan memerlukan persetujuan dari semua ahli waris atau pihak yang mempunyai hak atas tanah tersebut. Perlu diingat juga bahwa Petok D tak mempunyai tenaga tata tertib yang sama dengan sertifikat hak atas tanah yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Apa hubungannya Petok D dengan Akta Hak Milik (SHM)?

Petok D yaitu salah satu dokumen yang diperlukan dalam progres pengurusan Sertifikat Hak Milik (SHM). Dalam progres pengurusan SHM, pemilik tanah sepatutnya melengkapi bermacam dokumen, termasuk Petok D.

Petok D sendiri yaitu dokumen yang berisi berita perihal batas-batas tanah yang dimiliki oleh seseorang. Dokumen ini diterbitkan oleh pemerintah setempat setelah dilaksanakan progres penilaian dan pemetaan tanah. Petok D ini nantinya akan menjadi rujukan dalam pembuatan sertifikat hak atas tanah.

Jadi, dengan mempunyai Petok D yang lengkap dan akurat, progres pengurusan SHM dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dan cepat. Petok D akan menjadi salah satu dokumen yang diminta oleh Kantor Pertanahan setempat dalam progres pengurusan SHM.

Tetapi, perlu diingat bahwa mempunyai Petok D saja tak cukup untuk menerima SHM. Masih ada bermacam dokumen dan syarat lain yang sepatutnya dipenuhi. Oleh karena itu, sebaiknya memperhatikan dengan teliti semua syarat dan prosedur yang diperlukan dalam pengurusan SHM.

Apa yang sepatutnya dilaksanakan untuk mengurus SHM di Petok D?

Mengetahui Petok D dan Cara Mengurusnya Menjadi SHM

Untuk mengurus Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan menggunakan Petok D, ada sebagian jenjang yang sepatutnya dilaksanakan. Berikut yaitu langkah-langkah yang perlu dilaksanakan:

  1. Membikin Permohonan Pemilik tanah sepatutnya membuat permohonan pengurusan SHM ke Kantor Pertanahan setempat. Dalam permohonan tersebut, pemilik tanah sepatutnya menyertakan dokumen-dokumen yang diperlukan, termasuk Petok D.
  2. Proses Verifikasi Dokumen Sesudah menerima permohonan, Kantor Pertanahan akan memverifikasi dokumen yang diserahkan. Proses verifikasi ini meliputi pemeriksaan originalitas dokumen dan keakuratan berita yang terdapat pada dokumen tersebut.
  3. Proses Penilaian Lapangan Jikalau dokumen yang diserahkan lengkap dan valid, Kantor Pertanahan akan melaksanakan progres penilaian lapangan. Proses ini dilaksanakan untuk mempertimbangkan batas-batas tanah sesuai dengan Petok D.
  4. Pembuatan SHM Sesudah progres penilaian lapangan selesai, Kantor Pertanahan akan membuat Sertifikat Hak Milik (SHM) yang nantinya akan dikasih kepada pemilik tanah. SHM ini akan mencantumkan berita berhubungan kepemilikan tanah, termasuk batas-batas tanah yang tercantum dalam Petok D.

Baca juga; Cara Mendapatkan Persetujuan Gadai dengan Syarat AJB Sederhana

Penting untuk diingat bahwa setiap Kantor Pertanahan mungkin mempunyai prosedur yang berbeda dalam pengurusan SHM. Oleh karena itu, sebaiknya pemilik tanah memperhatikan dengan teliti semua syarat dan prosedur yang diperlukan di Kantor Pertanahan setempat sebelum mengajukan permohonan pengurusan SHM dengan menggunakan Petok D.

Keuntungan mempunyai SHM di Petok D

Memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) di Petok D mempunyai sebagian keuntungan, di antaranya:

  1. Keabsahan Kepemilikan Tanah yang Terang Dengan mempunyai SHM di Petok D, pemilik tanah mempunyai originalitas kepemilikan tanah yang jelas dan legal. Nilai ini sangat penting dalam menghindari sengketa lahan dan memudahkan dalam melaksanakan transaksi jual beli tanah.
  2. Mempermudah Investasi yang Tinggi Tanah yang mempunyai SHM di Petok D mempunyai poin investasi yang tinggi karena mempunyai originalitas kepemilikan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, harga jual tanah tersebut cenderung lebih tinggi diperbandingkan tanah yang tak mempunyai SHM.
  3. Memiliki dalam Pemanfaatan Tanah Dengan mempunyai SHM di Petok D, pemilik tanah mempunyai hak penuh dalam pemanfaatan tanah sesuai dengan peruntukannya. Nilai ini memudahkan dalam melaksanakan pembangunan atau pengembangan tanah sesuai dengan kebutuhan dan harapan pemilik tanah.
  4. Menjamin Keamanan Investasi Memiliki SHM di Petok D juga dapat menjamin keamanan investasi karena tanah yang dimiliki mempunyai originalitas yang jelas dan tercatat di instansi yang memiliki wewenang. Nilai ini dapat meminimalisir risiko hilangnya atau dicabutnya hak atas tanah yang dimiliki.
  5. Akta Tetapi Jaminan Kredit SHM di Petok D juga dapat dibuat jaminan kredit karena mempunyai poin yang tinggi dan originalitas kepemilikan yang jelas. Nilai ini memudahkan dalam menerima kredit atau pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya.

Dengan mempunyai SHM di Petok D, pemilik tanah dapat mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut di atas. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemilik tanah untuk mengurus SHM dengan bagus dan meniru semua prosedur dan syarat yang berlaku di Kantor Pertanahan setempat.

Mengetahui Petok D dan Cara Mengurusnya Menjadi SHM

Dalam mengurus Sertifikat Hak Milik (SHM) di Petok D, terdapat sebagian jenjang yang sepatutnya dilewati dan bermacam dokumen yang sepatutnya dipersiapkan. Tetapi, setelah berhasil mempunyai SHM, pemilik lahan akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti jaminan kepastian tata tertib, poin investasi yang lebih tinggi, dan kemudahan dalam mengakses layanan keuangan. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemilik lahan untuk mengurus SHM-nya dengan benar dan tak menunda-nunda progres pengurusannya. Dengan semacam itu, mereka dapat menikmati manfaat dari kepemilikan SHM dan terhindar dari bermacam risiko yang mungkin muncul pengaruh tak mempunyai SHM yang legal dan terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN).